Postingan

Senandung Terakhir di Lembah Kabut

  Sebuah cerita tentang pelarian, kebenaran yang terkubur, dan harga sebuah keadilan. LA Laura Andini Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  ·  Universitas Negeri Padang  ·  2026 Bagian I Aroma Kopi dan Kenangan yang Terkubur Langit di atas Lembah Aruna selalu memiliki warna yang sama di pagi hari: abu-abu pucat yang seolah menahan napas, diselimuti kabut tebal yang merayap dari dasar lembah hingga menyentuh atap-atap rumah kayu yang berjejer rapi. Di sudut kedai kopi kecil bernama "Titik Nol," duduklah Elara. Ia bukan penduduk asli Aruna, tetapi matanya—sepasang mata kelabu yang menyimpan terlalu banyak cakrawala—telah menetap di sana selama hampir dua dekade. Aroma kopi robusta yang baru diseduh, dicampur dengan sedikit kayu manis dan kelembaban tanah basah, adalah satu-satunya hal yang mampu menembus lapisan kabut ingatan yang sering menyelimutinya. Elara menyeruput pelan, merasakan panasnya menjalar, lalu meletakkannya kembali di atas meja kay...

Membaca Makna di Balik Pujian: Apresiasi sebagai Sistem Tanda dalam Perspektif Semiotik

  Abstrak Apresiasi lazim dipahami sebagai ungkapan penghargaan yang bersifat emosional dan subjektif. Namun, jika dikaji melalui lensa semiotik, apresiasi sesungguhnya merupakan sistem tanda yang kompleks — mencakup tanda verbal, nonverbal, visual, maupun kultural. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana apresiasi bekerja sebagai proses penandaan ( semiosis ) dengan menerapkan kerangka teoritis dari Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, dan Roland Barthes. Melalui analisis terhadap berbagai bentuk apresiasi — mulai dari tepuk tangan, piala penghargaan, ulasan karya seni, hingga emoji "jempol" di media sosial — artikel ini menunjukkan bahwa apresiasi tidak sekadar mengekspresikan rasa suka, melainkan mengonstruksi makna, membangun relasi kuasa, serta mereproduksi nilai-nilai sosial dan budaya. Pemahaman semiotik terhadap apresiasi membuka cakrawala baru dalam kajian komunikasi, pendidikan, serta kritik seni dan sastra. Kata kunci: apresiasi, semiotik, tanda, makna, S...

Membaca Ulang "Robohnya Surau Kami": Makna yang Lahir dari Ruang Antara Teks dan Pembaca

  Sebuah kajian estetika resepsi terhadap cerpen A.A. Navis yang membuktikan bahwa makna sastra bukan milik pengarang, melainkan milik pembaca yang berani menafsirkannya. Laura Andini Universitas Negeri Padang April 2026 12 menit baca Abstrak Artikel ini mengkaji cerpen "Robohnya Surau Kami" karya A.A. Navis (1956) melalui pendekatan resepsi pembaca yang dikembangkan oleh Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Dengan menempatkan pembaca sebagai subjek aktif pencipta makna, kajian ini menganalisis bagaimana horizon of expectation , celah-celah tekstual ( gaps ), dan keragaman latar belakang pembaca menghasilkan pemaknaan yang beragam terhadap satu teks yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa vitalitas karya Navis justru terletak pada ambiguitasnya yang produktif, yang terus mengundang pembaca dari berbagai generasi untuk bernegosiasi dengan teksnya. resepsi estetika horizon of expectation implied reader A.A. Navis apresiasi sastra celah tekstual sastra Indonesia I. Pendahuluan Ada...

Refleksi Kehidupan di Masa Pandemi dalam Cerpen “Hari-hari Ini”. Laura Andini Universitas Negeri Padang

Pendahuluan Karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cerminan kehidupan manusia. Melalui bahasa yang indah dan penuh makna, sastra mampu merekam berbagai peristiwa, termasuk situasi krisis yang dialami masyarakat. Salah satu karya yang menggambarkan hal tersebut adalah cerpen “Hari-hari Ini” karya Didie Sri Widiyanto. Cerpen ini hadir sebagai refleksi mendalam tentang kehidupan manusia di tengah pandemi COVID-19. Tidak hanya menggambarkan kondisi fisik, tetapi juga menyentuh sisi psikologis manusia yang diliputi kecemasan, kesepian, dan ketidakpastian. Sejalan dengan itu, Abdurahman (2023) menyatakan bahwa: “Karya sastra berfungsi sebagai rekaman peristiwa penting dalam sejarah manusia yang tidak hanya mencatat fakta fisik, tetapi juga menangkap getaran emosi dan suasana batin masyarakat pada masa tersebut.” Berdasarkan pandangan tersebut, cerpen ini menjadi sangat relevan karena tidak hanya merekam peristiwa pandemi sebagai berita, tetapi juga se...