Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Refleksi Kehidupan di Masa Pandemi dalam Cerpen “Hari-hari Ini”. Laura Andini Universitas Negeri Padang

Pendahuluan Karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cerminan kehidupan manusia. Melalui bahasa yang indah dan penuh makna, sastra mampu merekam berbagai peristiwa, termasuk situasi krisis yang dialami masyarakat. Salah satu karya yang menggambarkan hal tersebut adalah cerpen “Hari-hari Ini” karya Didie Sri Widiyanto. Cerpen ini hadir sebagai refleksi mendalam tentang kehidupan manusia di tengah pandemi COVID-19. Tidak hanya menggambarkan kondisi fisik, tetapi juga menyentuh sisi psikologis manusia yang diliputi kecemasan, kesepian, dan ketidakpastian. Sejalan dengan itu, Abdurahman (2023) menyatakan bahwa: “Karya sastra berfungsi sebagai rekaman peristiwa penting dalam sejarah manusia yang tidak hanya mencatat fakta fisik, tetapi juga menangkap getaran emosi dan suasana batin masyarakat pada masa tersebut.” Berdasarkan pandangan tersebut, cerpen ini menjadi sangat relevan karena tidak hanya merekam peristiwa pandemi sebagai berita, tetapi juga se...

Mengungkap Jiwa Sastra: Apresiasi Karya Sastra melalui Pendekatan Religius

Apresiasi sastra dengan pendekatan religius membuka lapisan mendalam karya sastra, di mana nilai-nilai keimanan, spiritualitas, dan etika agama menjadi lensa utama untuk memahami makna intrinsik dan dampaknya bagi pembaca. Pendekatan ini tidak hanya melihat sastra sebagai hiburan estetis, melainkan sebagai medium dakwah halus yang menyentuh hati, mengajak refleksi diri, dan memperkuat akidah di tengah arus modernitas yang seringkali mereduksi spiritualitas. Karakteristik Pendekatan Religius Sastra Pendekatan religius sastra menekankan pencarian nilai-nilai ilahi dalam teks, seperti tauhid, ketaatan ibadah, akhlak mulia, dan perjuangan melawan godaan duniawi. Berbeda dengan pendekatan sosiologi yang fokus pada konteks masyarakat atau struktural yang menganalisis elemen formal, pendekatan ini menggali bagaimana simbol, metafor, dan narasi merepresentasikan wahyu agama. Misalnya, doa sebagai motif berulang bukan sekadar deskripsi, melainkan pengingat akan ketergantungan pada Tuhan. Pendek...

Sastra Sebagai Cermin Sosial: Mengapresiasi Karya melalui Lensa Sosiologi untuk Era Modern

Apresiasi sastra melalui pendekatan sosiologi sastra menawarkan cara mendalam untuk memahami karya bukan sekadar sebagai hiburan estetis, melainkan sebagai dokumen hidup yang merefleksikan dinamika masyarakat. Dikembangkan oleh Ian Watt dalam esainya  Sociology of Literature , pendekatan ini membagi analisis menjadi tiga pilar utama: sosiologi pengarang (latar belakang sosial, ideologi, dan pengalaman yang membentuk visi kreatif), sosiologi karya (struktur intrinsik yang mencerminkan norma, konflik kelas, atau kritik sosial), serta sosiologi pembaca (bagaimana karya diterima dan memengaruhi kesadaran kolektif masyarakat). Fondasi Teoritis Pendekatan Sosiologi Sastra Pendekatan ini berakar pada gagasan bahwa sastra tidak lahir di ruang hampa, melainkan dipengaruhi dan membentuk realitas sosial. Berbeda dengan pendekatan formalis (seperti New Criticism) yang terpaku pada teks intrinsik seperti metafora atau ritme, sosiologi sastra menekankan hubungan timbal balik antara pengarang, ka...